• Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Daftar
  • Lupa Kata Sandi
Ingin liburan?
Ayo jelajahi kekayaan pariwisata Indonesia, mulai dari kedalaman laut hingga puncak gunung

Propinsi


Kodya / Kabupaten

Jenis Wisata


Kata Kunci

























Jumlah Anggota Adira FOI
21201
Beranda > Artikel > Lukisan Senja di Ulee Lheu
Lukisan Senja di Ulee Lheu
Kamis, 29/03/2012 22:50:00 | Nangroe Aceh Darussalam | Wisata Budaya

Oleh:
Yunaidi Joepoet

Traveler
Beri nilai:

Saya masih ingat tentang cerita tentang pelabuhan Ulee Lheu. Ceritanya menarik sekali tentang dua orang sahabat yang hidup sebagai kuli pelabuhan. Mengambil latar Pantai Ceureumen di Ulee Lheu, cerita itu mengangkat kisah perang yang ada di Aceh. Kala itu Belanda datang menyerang Aceh. Husin yang dengan penuh semangat, membulatkan tekad untuk membelas tanah yang telah membesarkannya. Husin meninggalkan Syarief yang ingin mempersunting Jamilah, seorang wanita Aceh yang telah merebut hati Syarief. Husin pun melangkah sembari berucap kepada syarief ingin mempersunting bidadari. Tekad Husin pun sudah bulat untuk berperang. Syarief yang masih dirundung kebimbangan tiba-tiba dikagetkan oleh ketukan pintu rumah. Tak dinyana, sahabat satu-satunya yang dimiliki Syarief mangkat di medan perang.

 

Syarief pun kalap, dalam kegamangannya Syarief berlari menuju rumah Jamilah. Syarief tak sabar ingin bertemu Jamilah. Pintu rumah Jamilah diketuk keras. Jamilah pun keluar sembari menyembunyikan wajah sedihnya. Namun Syarief buru-buru mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan tersebut di berikan kepada Jamilah sebagai tanda nanti kelak untuk mereka menikah. Setalah membiri bingkisan, Syarief pun berlalu untuk pergi berperang melawan Belanda. Namun suara Jamilah menghentikan langkah Syarief. Jamilah menatap dalam-dalam mata kekasihnya itu dan berkata, “Demi Allah aku mencintaimu, Cutbang. Aku ingin bahagia bersamamu. Ingin sekali.” Sepasang kekasih itu pun pergi ke medan perang dengan cinta yang menyatukan mereka demi membela tanah kelahiran mereka, Aceh.

 

Lepas dari cerita tentang Syarief dan Jamilah yang berperang melawan Belanda. Sore itu saya datang mengunjungi tempat dimana cerita itu dibuat. Langit sore itu cerah sekali. Warga aceh lalu lalang datang menikmati suasana sore di pinggiran laut Ulee Lheu. Pondok-pondok jagung di sepanjang jalan menuju pelabuhan Ulee Lheu terlihat penuh dengan pengunjung. Di pantainya terlihat beberapa anak kecil bermain balon air. Mereka meluncur di dalam bola-bola air. Jauh di seberang beberapa orang terlihat berjalan melewati batu yang disusun seperti benteng pertahanan untuk memecah ombak-ombak besar.

 

Teman saya Citra dan Ari menghentikan deru sepeda motornya di salah satu warung di pinggir jalan Ulee Lheu. Saya memesan minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokan yang sedari tadi sudah kering. Kami beristirahat sejenak melepas pandang ke laut. Pantai Ulee Lheu merupakan salah satu bibir pantai yang sangat indah untuk menyaksika matahari tenggelam.

 

Sewaktu tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Pantai ini menjadi salah satu kawasan yang terparah dilanda tsunami. Hanya satu bangunan yang tersisa saat tsunami menghantam aceh. Bangunan itu adalah Mesjid Baiturrahim yang sekarang masih berdiri kokoh di dekat Ulee Lheu.

 

Ulee Lheu memang parah terkena tsunami, namun sekarang wajah kehancuran akibat tsunami tahun 2004 telah hilang sama sekali. Jalanan dan pinggiran pantai di bangun sangat bagus. Di Ulee Lheu juga dibuat sentra kuliner di Banda Aceh. Warung-warung makanan yang menjual beberapa makanan khas Aceh mengisi sentra kuliner tersebut.

 

Matahari semakin condong ke sudut barat. Saya dan beberapa teman masih terpana dengan langit sore itu. Kami pun beranjak menuju bibir pantai. Melihat matahari tenggelam dengan refleksi di laut. Sunggu indah sekali suasan sore itu. Semakin senja, warna langit semakin membara. Jingga nya semakin membara mengalahkan warna biru. Saya dan teman-teman dibuat terpana dengan suasana matahari tenggelam sore itu di Ulee Lheu.

 

Beberapa nelayan masih bertahan di atas batu menunggu umpannya di makan ikan. Siluet nelayan yang sedang memancing tak lupa saya abadikan dengan kamera yang saya bawa. Sungguh pemandangan yang sangat indah sekali.

 

Senja masih menggelora, namun kami harus segera meninggalkan Ulee Lheu. Kami berpindah menuju Mesjid Baiturrahim yang tidak jauh dari tempat kami duduk menikmati minuman dingin tadi. Di Mesjid Baiturrahim Ulee Lheu, beberapa bukti visual tentang tsunami masih dipajang disudut mesjid. Sungguh hari yang menyenangkan di Banda Aceh. Aceh Lon Sayang.


Label: pantai ulee lheu banda aceh



2 Komentar

Yunaidi Joepoet   30 March 2012 14:07:23
lukisan yg begitu indah dari ujung sumatera :)

Terima Kasih :)) Aceh memang sangat menawan menurut saya. Mungkin ini yang membuat saya jatuh hati untuk mengunjungi Aceh :)
salam kenal,

yudi :)
Balas  Laporkan 
Aulia Fitri   30 March 2012 00:41:34
lukisan yg begitu indah dari ujung sumatera :)
Balas  Laporkan 
User name  : 
Password  : 

Artikel Menarik Lainnya

Kantor Cabang Adira Finance

1. Banda Aceh
    Jl. Teuku Umar No. 27 & 27A
    Telp : 0651- 40181
    Fax  : 0651-40228

 

2. Meulaboh
    Jl. Manerok Lorong Nangka 2
    Telp : 0655 - 7551498-96-95
    Fax  : 06455 - 7551497