• Hubungi Kami
  • Tentang Kami
  • Daftar
  • Lupa Kata Sandi
Ingin liburan?
Ayo jelajahi kekayaan pariwisata Indonesia, mulai dari kedalaman laut hingga puncak gunung

Propinsi


Kodya / Kabupaten

Jenis Wisata


Kata Kunci

























Jumlah Anggota Adira FOI
21048
Beranda > Artikel > Jogja Haritage Tugu Jogja : Berfoto Narsis dibangunan Magis nan Historis
Jogja Haritage Tugu Jogja : Berfoto Narsis dibangunan Magis nan Historis
Rabu, 29/02/2012 10:01:29 | Daerah Istimewa Yogyakarta | Wisata Budaya

Oleh:
Silvian Handy Surya

Traveler
Beri nilai:

        Ditengah gerimis malam setelah seharian Jogja diguyur hujan lebat, dengan sangat terpaksa saya harus mengantar salah seorang rekan saya dari salah satu biro perjalanan di Bandung untuk sekedar melihat Tugu Jogja diwaktu malam, kamipun meluncur menuju lokasi Tugu Jogja dan meninggalkan rombongan tour dari Jakarta yang stay di salah satu hotel dilokasi Malioboro. Beberapa peserta rombongan mengetahui rencana dan tujuan kami, singkat cerita kemudian 4 orang dari peserta rombongan ikut kami untuk melihat Tugu Jogja disaat malam hari. Saya Tanya alas an mereka kenapa penasaran ingin melihat Tugu Jogja, jawaban mereka semua sama yaitu ingin mengambil foto dekat dengan latar belakang Tugu Jogja.


       Tugu Jogja sebenarnya adalah bangunan tugu biasa tidak semegah Monas atau menara Eiffel paris ataupun Menara Condong Pisa. Tugu ini berada persis di pertengahan jalur menuju Malioboro ( Jl. Mangkubumi ), Jl. Diponegoro, Jl. Jend. Sudirman dan Jl. AM Sangadji. Saat awal dibangun tugu ini berbentuk Golong Gilig, yaitu tugu yang ujung atasnya berbentuk bulat tidak kerucut seperti saat ini yang sering kita lihat. Tugu ini dibangun 3 abad lampau atau sekitar tahun 1715 M oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, sebagai penanda batas dalam meditasi untuk mengamati puncak Merapi dari paseban Agung Kraton Ngayogyakarta. Pada awal di bangun Tugu ini setinggi kurang lebih 25 – 30 meter kemudian terjadi bencana alam gempa bumi di tahun 1867 menyebabkan tugu yang penuh misteri dan magis ini runtuh.


        Kemudian pada masa pemerintahan kolonial Belanda di tahun 1888 tugu ini direnovasi oleh pemerintah Hindia Belanda dan bentuknya hingga sekarang setiap hari bisa kita lihat, yang sangat jelas perubahannya adalah tinggi tugu menyusut 10 meter dan ujungnya berbentuk kerucut. Kemudian oleh Belanda dinamakan De Witt Paal atau Tugu Pal Putih. Perombakan ini sebenarnya merupakan bagian dari taktik Belanda untuk memecah belah kesatuan antara rakyat dan raja. Dilain itu menghilangkan atau mengkikis hasil inovasi rakyat kasultanan Jogjakarta yang bisa mendirikan bangunan kokoh.


        Malam itu pula, semua crew dan rombongan peserta begitu menikmati foto bersama di area Tugu, yang saat itu sudah di jadikan kawasan cagar budaya dan landmark kota Jogjakarta. Salah satu peserta wisata mengatakan bahwasanya belum terasa ke Jogja kalau belum berfoto dan narsis dengan latar belakang Tugu Jogja. Suasana semakin seru ketika peserta rombongan menikmati Gudeg Tugu yang berada disisi barat Tugu sambil menikmati pemandangan tugu yang bermandikan cahaya. Hingga menjelang pukul 02.00 pagi peserta rombongan kembali ke hotel setelah narsis di bagunan yang magis dan penuh historis


Label:



0 Komentar

Tidak ada komentar.




User name  : 
Password  : 

Artikel Menarik Lainnya

Kantor Cabang Adira Finance